My Weblog

Just another WordPress.com weblog

Obligasi, Suku Bunga dan Credit Rating

Dalam post “BOND…. James BOND….Bond Laddering” saya telah membahas beberapa konsep dasar dalam investasi obligasi. Salah satu hal yang dibahas dalam post itu adalah bahwa harga pasar sebuah obligasi itu berfluktuasi, sehingga Yield obligasi itu pun juga akan berfluktuasi.

Pergerakan harga pasar sebuah obligasi bisa disebabkan oleh banyak hal. Meskipun demikian, bisa dikatakan 2 faktor utama yang mempengaruhi harga pasar (dan tentunya juga Yield) dari obligasi adalah perubahan tingkat suku bunga dan perubahan Credit Rating (Kualitas Kredit) dari perusahaan penerbit obligasi itu.

Untuk mengerti efek perubahan suku bunga, saya akan menggunakan sebuah ilustrasi sederhana (NOTE: Bagi pembaca yang belum paham cara kerja obligasi, ada baiknya membaca post “BOND…. James BOND….Bond Laddering” terlebih dahulu)

Ilustrasi 1 :

PT Jangan Serakah menerbitkan 1 lembar obligasi untuk memenuhi kebutuhan dananya, yaitu obligasi seri JS-1 dengan nominal Rp 100 juta. Maturity obligasi ini 1 tahun, dengan kupon sebesar 10%. Obligasi ini kita beli dengan harga par (Rp 100 juta). Sehari setelah PT Jangan Serakah menerbitkan obligasi JS-1 itu, Gubernur Bank Indonesia menurunkan BI Rate sebesar 2%. BI rate ini sendiri merupakan patokan untuk berbagai suku bunga lainnya sehingga jika BI Rate turun, bunga-bunga lain umumnya juga akan bergerak turun.

Seminggu kemudian, PT. Jangan Serakah kembali membutuhkan dana dan menerbitkan obligasi baru, yaitu seri JS-2 dengan Nominal dan maturity yang sama dengan JS-1. Mengingat pada saat itu suku bunga di pasar telah turun tentunya obligasi yg baru ini bunganya juga akan turun, dan tidak sebesar 10%, misalkan saja Yieldnya hanya sebesar 8%.

Seandainya pada saat itu ada seorang investor yang ingin membeli obligasi PT. Jangan Serakah, dia ada dua pilihan. Pilihan pertama adalah dia membeli obligasi JS-2 yg bunganya 8%, atau pilihan lainnya, dia bisa membeli obligasi JS-1 milik kita yg bunganya 10%. Obligasi JS-1 memberikan bunga yang lebih besar , sehingga tentunya kita tidak mau menjual obligasi JS-1 kita dengan harga yang sama dengan JS-2. Harga obligasi seri 1 itu pun kita naikkan. Berapa harga jual yg “pantas” untuk obligasi seri 1 milik kita?

Dalam kondisi seperti ini, biasanya harga akan kita naikkan hingga Yield to Maturity dari obligasi JS-1 milik kita mendekati Yield dari obligasi JS-2, yaitu 8%. Untuk itu, harga obligasi JS-1 kita akan naik menjadi Rp 101,85 Juta (Didapat dari Rp 110 jt/108%). Pada harga ini, Yield to Maturity dari obligasi JS-1 milik kita akan menjadi kira kira 8%, sama dengan Yield dari obligasi JS-2.

Jika harga JS-1 kita tawarkan di atas harga Rp 101,85 juta, maka berarti Yieldnya turun hingga di bawah 8%, sehingga calon investor akan lebih memilih untuk membeli JS-2 (NOTE: Ingat bahwa di dalam obligasi, jika harga naik, maka yieldnya turun). Sebaliknya jika harga JS-1 kita tawarkan di bawah harga Rp 101,85 juta, maka Yieldnya akan di atas 8% sehingga calon investor akan lebih memilih untuk membeli JS-1 milik kita.

—–oOo—–

Perubahan Kualitas kredit (Credit Rating) sang penerbit obligasi juga mempunyai dampak terhadap harga obligasi. Credit Rating ini dikeluarkan oleh berbagai lembaga rating seperti Fitch, Standard & Poor’s dan Moodys. Sebuah Credit Rating memberikan gambaran tentang kemampuan si penerbit obligasi untuk membayar kupon dan juga pokok dari obligasinya. Jika kondisi keuangan si penerbit obligasi itu lemah, maka tentunya investor obligasi menghadapi resiko “gagal bayar” yang lebih besar. Oleh karena itu mereka akan menuntut Yield yang lebih tinggi.

Ilustrasi 2 :

Melanjutkan contoh di atas, Sewaktu penerbitan obligasi JS-2 (Kupon 8%=Rp 8 juta, maturity 1 thn). PT Jangan Serakah memiliki Credit Rating AAA (sangat baik sekali). Tetapi ternyata seminggu setelahnya, oleh Standard & Poor’s, Credit Rating PT. Jangan Serakah diturunkan hingga ke CCC (high risk, sangat spekulatif). Ini berarti obligasi terbitan PT. Jangan Serakah memiliki resiko “gagal bayar” yang sangat tinggi.

Seandainya hari itu pemilik obligasi JS-2 ingin menjual obligasinya, pasar pun akan “takut” untuk membelinya akibat resiko itu. Oleh karena itu jika ia tetap ingin menjual obligasi tersebut, ia akan terpaksa memberikan “pemanis” berupa diskon agar ada yang tertarik untuk membelinya. Misalkan saja obligasi JS-2 itu ia tawarkan dengan harga Rp 95 juta. Pada harga itu, Yield to Maturity obligasi JS-2 bukan lagi 8%, melainkan sudah naik menjadi 13,68%. Tingkat Yield yang lebih tinggi itu mungkin akan lebih bisa menarik calon pembeli.

Sebagai informasi tambahan, perlu diketahui bahwa secara umum Credit Rating dibedakan ke dalam 2 golongan utama : Investment Grade dan Non-Investment Grade. Rating obligasi terendah yang masih termasuk ke dalam kategori Investment Grade adalah Baa3 ( untuk Moody’s) ataupun BBB- (untuk Standard & Poor’s dan Fitch).

Sumber : http://janganserakah.com/2008/06/25/bond-james-bond/ <– thank’s alot for artikelnya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: