My Weblog

Just another WordPress.com weblog

Suku Bunga Deposito Turun Terus, ke Mana Duit Ditanam?

SEORANG pekerja sebuah perusahaan yang cukup bagus lima tahun silam mendapat tawaran pensiun dini dengan uang pesangon Rp 300 juta. Ia cukup bingung. Seorang temannya menasihati agar tawaran itu diambil dan uang pensiun didepositokan saja. Soalnya, kecenderungan suku bunga deposito waktu itu naik terus. Benar saja, ia sempat menikmati suku bunga depositonya pada tingkat 64 persen setahun. Kini dengan uang telah beranak-pinak sampai bercucu itu, tenanglah hidupnya dari sisi finansial.

AKAN tetapi, itu lima tahun silam. Sekarang, suku bunga deposito semakin hari semakin turun. Kini tinggal 6 persen per tahun untuk deposito berjangka satu bulan. Dipotong inflasi saat ini yang 4,8 persen, tinggal 1,2 persen. Masih dipotong lagi dengan pajak pendapatan bunga deposito yang 15 persen dari 6 persen, yaitu 0,9 persen. Tinggallah tersisa 0,3 persen saja. Situasi telah berubah. Hasil tanam uang di deposito memang semakin menipis saja. Sementara itu, pemerintah juga telah bersiap-siap mencabut jaminan melekat kepada perbankan secara bertahap. Jadi, ke mana kita sebaiknya menanam uang?

Turunnya suku bunga deposito itu tak lepas dari semakin turunnya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Bank-bank yang memiliki kelebihan dana, yang tidak dapat disalurkan sebagai kredit, biasanya menempatkan dana tersebut pada instrumen SBI. Tentu saja mendapatkan bunga dari BI. Bank kemudian mengambil untung dari selisih bunga SBI yang diperoleh dan bunga deposito yang diberikan kepada nasabah.

Nah, kalau suku bunga SBI terus turun, tentu saja bank-bank memberikan bunga yang lebih rendah dari suku bunga SBI tersebut kepada nasabah yang menyimpan dananya di deposito. Kalau tidak, banknya menjadi rugi.

Mengapa BI menurunkan suku bunga? Alasannya, antara lain, supaya bank-bank lebih banyak menyalurkan dana yang dihimpun dari masyarakat kepada dunia usaha. Tentu saja dengan suku bunga yang rendah juga lebih memberi peluang dunia usaha untuk mengembangkan investasi. Dengan demikian, dunia usaha bisa bergerak, antara lain karena sudah bisa menanggung beban bunga kredit yang lebih ringan.

Akan tetapi, kemudian muncul pertanyaan bagi mereka yang memiliki kelebihan dana-yang selama ini hanya disimpan di bank sebagai tabungan atau deposito-tetapi tidak memiliki usaha atau memang tidak berbakat berbisnis langsung, ke mana uang itu ditanamkan supaya menghasilkan investasi yang optimal? Banyak alternatif, selain deposito yang semakin tidak dapat diandalkan itu.

Acapkali kita tergiur mendengar cerita investasi di saham yang dapat memberikan imbal hasil cukup memuaskan. Misalnya, orang yang membeli saham Bank Mandiri pada saat bank itu melakukan penawaran perdana kepada publik seharga Rp 675 per lembar pada Juli 2003. Berdasarkan harga penutupan perdagangan saham di BEJ, saham Bank Mandiri bernilai Rp 1.500 per lembar. Artinya, hanya dalam tujuh bulan investasi, saham Bank Mandiri telah meningkat sebanyak Rp 825 per lembar.

Itulah potensi keuntungan orang yang ikut membeli saham Bank Mandiri dulu, kalau melepas sahamnya sekarang. Luar biasa! Enam bulan saja, investasi itu memberikan keuntungan 122 persen. Bandingkan dengan deposito yang ketika Juli 2003 suku bunganya cuma sekitar 12 persen. Itu pun dana kita harus dibiarkan mengendap selama setahun.

Memang lezat hasil investasi saham itu. Akan tetapi, jangan lupa, sebelum kita memutuskan berinvestasi di saham, kita sama sekali tidak punya gambaran jelas, berapa besar imbal hasil investasi yang kita peroleh kelak. Artinya, ada risiko besar yang menganga, yang memungkinkan kita juga bisa terjerembab ke lembah kerugian. Kalau harga saham ternyata turun, tentu bukannya untung, malah buntung. Beda dengan deposito, yang sejak awal sebelum memutuskan memilih jangka waktunya kita sudah tahu berapa imbal hasil investasi yang bakal kita terima. Di samping itu, menaruh uang di bank juga masih dijamin pemerintah. Super aman.

Ada jargon investasi yang menyatakan, high return high risk. Begitulah investasi saham. Peluang keuntungannya tinggi, peluang risikonya juga selangit. Kalau Anda lemah jantung, tidak kuat menanggung risiko yang begitu besar, lebih baik tidak masuk “bersolo karier” menanamkan duit Anda ke saham.

Okelah Anda mungkin termasuk tipe orang yang suka, atau setidaknya dapat menanggung risiko di atas rata-rata. Meskipun demikian, kalau Anda tidak punya cukup waktu untuk memerhatikan perkembangan perusahaan, mencermati pergerakan harga saham setiap saat, Anda bisa-bisa bagai orang kecopetan. Ketika hendak melikuidasi investasi, bagai mimpi di siang bolong Anda menemukan harga saham itu jatuh, jauh di bawah harga pada saat Anda membeli saham itu.

Jadi, bagaimana? Ada pilihan investasi lain yang relatif lebih aman, yakni membeli obligasi alias surat utang. Kenapa lebih aman? Sebab, saham adalah bukti kepemilikan. Ketika kita memiliki saham satu perusahaan, berarti kita menjadi salah satu pemilik perusahaan itu. Pemilik perusahaan atau pemegang saham berhak atas keuntungan perusahaan berupa dividen, tetapi dia juga bertanggung jawab terhadap kewajiban dan permasalahan perusahaan.

Oleh karena itu, jika misalnya saja suatu ketika perusahaan itu ambruk dan harus dibubarkan, seluruh aset kekayaan perusahaan pada kesempatan pertama harus digunakan untuk melunasi kewajiban yang antara lain kepada pemegang obligasi. Kalau ada sisa, baru dibagi kepada pemegang saham.

Di samping itu, investasi di saham tingkat pengembalian yang akan diperoleh, baik dari peningkatan nilai saham maupun dari pembagian dividen, tidak bisa dipastikan. Tergantung kinerja perusahaan. Adapun investasi di obligasi memberikan kepastian berapa dana yang akan diterima saat jatuh tempo nantinya dan berapa suku bunga yang akan diterima setiap periode pembayaran kupon bunga. Semuanya sudah ditetapkan dalam prospektus. Makanya, tanam uang di obligasi ini disebut juga investasi pendapatan tetap. Jadi, investasi di obligasi relatif lebih aman.

Kenapa relatif?

Karena masih ada kemungkinan terjadi gagal bayar alias perusahaan penerbit obligasi mangkir bayar bunga ataupun bayar utang pokok ketika jatuh tempo. Gagal bayar itu bisa terjadi, misalnya, kalau perusahaan penerbit obligasi mengalami krisis keuangan dan rugi besar. Atau bisa juga pemilik perusahaan itu nakal, dengan berbagai cara sengaja ngemplang, tidak bayar utang.

Dari sudut penerbitnya, obligasi itu sendiri dapat kita pilah menjadi dua jenis, yaitu obligasi pemerintah dan obligasi perusahaan (korporasi). Saat ini hasil serahan atau imbal hasil (yield) obligasi pemerintah sebesar 12,5 persen untuk obligasi yang jangka waktunya sembilan tahun. Adapun obligasi korporasi sedikit di atas obligasi pemerintah, yakni sekitar 13,5 persen.

Obligasi korporasi menawarkan hasil yang lebih tinggi daripada obligasi pemerintah karena obligasi pemerintah dijamin oleh kedaulatan negara. Artinya, selama negara yang menerbitkan obligasi itu masih ada, obligasi itu akan dibayar. Sekalipun sifatnya tidak seperti jaminan pada perbankan, tetapi obligasi negara ini jelas lebih aman daripada investasi di obligasi korporasi, apalagi di saham. Kembali lagi ke jargon high return high risk, obligasi korporasi menawarkan keuntungan yang lebih besar daripada obligasi pemerintah.

Jadi, kita pilih investasi di obligasi dong? Tunggu dulu. Lihat dulu, berapa duit yang kita punya. Dana yang dibutuhkan untuk investasi di obligasi ini haruslah besar. Minimal dalam kelipatan Rp 1 miliar. Jelas ini bukan pilihan yang mungkin bagi mereka yang memiliki dana ratusan juta rupiah, apalagi beberapa juta rupiah saja. Kecuali, kalau Bursa Efek Surabaya sudah meluncurkan produk obligasi untuk ritel, baru dengan modal puluhan juta rupiah kita bisa masuk.

Masalah serupa dihadapi kalau ingin investasi di SBI yang suku bunganya masih di atas deposito. Seperti halnya obligasi, dana investasi untuk SBI perlu besar karena lelang SBI bukan lelang ritel seratus atau dua ratus juta rupiah.

Investasi valuta

Bagi yang memiliki dana investasi terbatas masih ada peluang lain di luar saham, yaitu instrumen investasi valuta asing (valas). Menanamkan duit rupiah ke dalam instrumen valas tampaknya masih memberikan peluang. Misalnya, ke dalam euro. Alasannya, nilai tukar euro terus menguat terhadap dollar AS. Cuma pertanyaannya, seberapa lama penguatan euro akan terus berlanjut. Jangan sampai setelah kita merelokasi investasi ke euro, justru dollar AS berbalik menguat.

Investasi ke dollar AS? Sebelum menanam duit ke dollar AS dalam jumlah besar, mungkin perlu berpikir sejenak. Soalnya, harga dollar AS saat ini di kisaran Rp 8.400-an. Bank Indonesia memperkirakan kurs dollar AS tahun ini bergerak dari Rp 8.200 sampai Rp 8.700.

Beberapa analis memperkirakan rupiah memang akan terus menguat. Apalagi Bank Indonesia telah menyiapkan peluru untuk bertarung di pasar valuta jika rupiah mendapat gangguan. BI telah menjalin kerja sama dengan sejumlah bank sentral lainnya di kawasan Asia untuk keperluan “pinjam-meminjam uang”. Akan tetapi, menjelang pemilu, tensi politik akan meningkat. Panasnya bisa merembes ke pasar valuta. Spekulan cukup rajin menspekulasi rupiah sehingga bukan tidak mungkin rupiah bisa merosot. Perdagangan valas jauh lebih mudah bergejolak dan relatif lebih sulit diprediksi daripada saham. Di saham ada kinerja, ada laporan keuangan rutin, sehingga paling tidak pemegang saham bisa memperkirakan nilai saham berdasarkan kinerja perusahaan. Akan tetapi, pemicu naik turunnya nilai mata uang jauh lebih abstrak dan sangat sensitif.

Emas bagaimana? Tampaknya, kalau sekarang baru mau masuk ke “tambang” emas, harganya sudah telanjur tinggi akibat semakin terpuruknya dollar AS di pasar internasional, terutama terhadap euro dan yen. Apalagi, kalau cuma menanamkan duit dengan membeli emas perhiasan, bisa-bisa malah merugi. Pasalnya, jika emas perhiasan tersebut akan dilepas, pedagang emas biasanya akan memotong ongkos kerja yang cukup besar. Sekalipun emas perhiasan itu baru setahun dibeli dan kondisinya masih mulus.

Jadi, bagi pemilik dana yang tak punya waktu untuk mengamati pergerakan saham setiap saat, sebaiknya memang tidak terjun langsung. Ada pilihan investasi yang menarik, yakni reksa dana. Instrumen investasi ini bisa mewakili keinginan kita tanpa ikut bermain langsung. Kita tinggal memilih jenis reksa dana yang mewakili jenis investasi yang kita maui. Ada reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap (obligasi), reksa dana pasar uang, dan reksa dana campuran. Bagi yang dananya terbatas, reksa dana ini juga memberi peluang untuk investasi karena kita bisa membeli setiap unit dengan murah. Ada yang harga pembelian awal unit penyertaan hanya Rp 250.000, sedangkan pembelian selanjutnya bisa Rp 100.000.

Untuk mengetahui nilai unit penyertaan pada reksa dana tersebut kita memantau setiap hari di surat kabar yang menyediakan informasi reksa dana.

Pertanyaannya, bagaimana memilih pengelola reksa dana atau biasa disebut manajer investasi? Saat ini terdapat 182 jenis reksa dana yang dikelola oleh 98 manajer investasi.

Hal pertama yang harus kita cari tahu adalah track record suatu manajer investasi. Bagaimana perusahaan tersebut, siapa sponsornya, bagaimana perkembangan imbal hasil yang dapat diberikan kepada nasabahnya. Patut dicatat, investasi reksa dana tidak dijamin pemerintah sebagaimana deposito pada bank.

Jangan percaya kalau ada manajer investasi yang menjanjikan tingkat imbal hasil. Badan Pengawas Pasar Modal jelas-jelas melarang manajer investasi menjanjikan tingkat imbal hasil tertentu. Sebab, nilai investasi pada reksa dana, yang dicerminkan dalam nilai aktiva bersih per unit, bisa juga berfluktuasi meski tidak terlampau tajam.

Yang bisa kita raba hanyalah catatan imbal hasil yang pernah diberikan kepada nasabahnya dalam beberapa tahun terakhir. Itu pun tidak otomatis mencerminkan imbal hasil yang akan diperoleh di masa mendatang. Sebab, nilai aktiva bersih itu juga akan didasarkan pada harga pasar dari instrumen yang dimiliki reksa dana tersebut.

Nasihat yang paling bijak adalah tentukan keperluan investasi Anda, sesuaikan dengan jenis instrumen investasi yang akan dipilih, dan ukurlah risiko yang dapat Anda tanggung. Jika investasi untuk jangka menengah apalagi jangka pendek janganlah berinvestasi pada instrumen jangka panjang. Sebaliknya, jika keperluan investasi Anda untuk jangka panjang, janganlah semuanya ditaruh di instrumen jangka pendek. Intinya, harus klop antara kebutuhan investasi dan instrumen investasi yang dipilih.

Ada lagi, prinsip investasi yang mengatakan, janganlah menyimpan semua telur pada satu keranjang. Karena jika keranjang Anda itu bermasalah, jatuh misalnya, maka semua telur Anda akan berantakan. Lain halnya jika telur-telur itu Anda tempatkan di beberapa keranjang berbeda, maka ketika salah satu keranjang mengalami masalah, masih ada telur yang utuh pada keranjang yang lain.

Seperti memperlakukan telur itu, begitu pula prinsip itu mengajarkan bagaimana memperlakukan dana investasi yang dimiliki. Kalau Anda punya sejumlah dana, akan baik kalau Anda investasikan di berbagai instrumen yang berbeda-beda. Kalaupun dana terbatas dan hanya bisa taruh di satu instrumen tertentu, misalnya saham, maka sebaiknya diinvestasikan dalam berbagai saham yang berbeda. Bukan hanya pada emiten yang berbeda, tetapi pada berbagai sektor industri yang berbeda. Begitu juga halnya kalau Anda punya dana besar dan memilih menanamkan uang di obligasi, maka komposisi investasi yang bagus akan lebih aman, sekaligus memberi potensi keuntungan yang baik. (Ardhian Novianto/Andi Suruji)

Sumber : http://64.203.71.11/kompas-cetak/0402/26/Perbankan/878800.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: